Hidup Sebagai Ajang Kompetisi, seleksi dan Prestasi


>

[MSB]

Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi, dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyaknya supaya kamu beruntung. [QS. al-Jumu’ah (62) : 10].
Setelah kita menunaikan kewajiban shalat untuk menghubungkan diri kepada Allah, kita harus bertebaran di bumi untuk meraih karunia Allah. Jadi kita harus bergerak, harus bekerja, harus menyebar, harus aktif, harus produktif.
Sebagai umat slam kita tidak boleh lengah, tidak boleh santai, tidak menyia-nyiakan waktu, tidak menyia-nyiakan harta yang kita miliki, tidak melupakan peraturan yang digariskan Allah SWT. Orang Islam itu harus berkompetisi, harus bersaing dengan orang lain, fastabiqul khaoirot (berlomba dalam kebaikan).

Baca selengkapnya »

Totalitas Ibadah


 

http://baguse-rek.blogspot.com/

[MSB]     “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah” [QS. Al-Dzariyat  (51) : 56].

Ayat Al-Quran di atas sekalipun ungkapannya pendek, akan tetapi mengandung sebuah hakekat yang amat penting. Karena kehidupan manusia di muka bumi ini tidak akan menjadi benar dan mapan tanpa memahami hakekat itu dengan benar, baik dalam kehidupan pribadi atau sosial, bahkan dalam kehidupan manusia secara keseluruhan.
Hakekat tersebut adalah ibadah kepada Allah swt. Ibadah diartikan sebagai segala sesuatu yang diridloi Allah swt dalam bentuk ucapan dan perbuatan lahir atau batin. Pengertian mi mencakup shalat, puasa, zakat, haji, menunaikan tugas, berbuat baik kepada orang tua, silaturrahmi, amar ma’ruh nahi munkar, berjuang mempertahankan agama, bersikap baik dengan tetangga, anak yatim, fakir miskin dan amalan-amalan Iainnya.

Baca selengkapnya »

>Alasan Berdzikir


>

http://baguse-rek.blogspot.com/
[MSB]    Allah SWT memerintahkan berdzikir kepada hamba-hamba-Nya yang beriman. Dengan berdzikir, kita akan menjadi bagian dan orang-orang yang beriman itu. Semakin kuat iman, makin hebat pula dzikir kita kepada Allah SWT. Orang yang tidak beriman pun tidak akan memiliki keinginan berdzikir.


أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الأمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ
“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik. [QS Al Hadid (57): 16].

Baca selengkapnya »

>3 Bulan Tidak Mampu Memandang Wajah Suami


>

http://kembanganggrek.worspress.com
[baguse-rek]   Perkawinan itu telah berjalan empat (4) tahun, namun pasangan suami istri itu belum dikaruniai seorang anak. Dan mulailah kanan kiri berbisik-bisik: “kok belum punya anak juga ya, masalahnya di siapa ya? Suaminya atau istrinya ya?”. Dari berbisik-bisik, akhirnya menjadi berisik.

Tanpa sepengetahuan siapa pun, suami istri itu pergi ke salah seorang dokter untuk konsultasi, dan melakukan pemeriksaaan. Hasil lab mengatakan bahwa sang istri adalah seorang wanita yang mandul, sementara sang suami tidak ada masalah apa pun dan tidak ada harapan bagi sang istri untuk sembuh dalam arti tidak peluang baginya untuk hamil dan mempunyai anak.

Melihat hasil seperti itu, sang suami mengucapkan: inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, lalu menyambungnya dengan ucapan: Alhamdulillah.

Sang suami seorang diri memasuki ruang dokter dengan membawa hasil lab dan sama sekali tidak memberitahu istrinya dan membiarkan sang istri menunggu di ruang tunggu perempuan yang terpisah dari kaum laki-laki.

Sang suami berkata kepada sang dokter: “Saya akan panggil istri saya untuk masuk ruangan, akan tetapi, tolong, nanti anda jelaskan kepada istri saya bahwa masalahnya ada di saya, sementara dia tidak ada masalah apa-apa.
Kontan saja sang dokter menolak dan terheran-heran. Akan tetapi sang suami terus memaksa sang dokter, akhirnya sang dokter setuju untuk mengatakan kepada sang istri bahwa masalah tidak datangnya keturunan ada pada sang suami dan bukan ada pada sang istri.

Sang suami memanggil sang istri yang telah lama menunggunya, dan tampak pada wajahnya kesedihan dan kemuraman. Lalu bersama sang istri ia memasuki ruang dokter. Maka sang dokter membuka amplop hasil lab, lalu membaca dan mentelaahnya, dan kemudian ia berkata: “… Oooh, kamu –wahai fulan- yang mandul, sementara istrimu tidak ada masalah, dan tidak ada harapan bagimu untuk sembuh.

Mendengar pengumuman sang dokter, sang suami berkata: inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, dan terlihat pada raut wajahnya wajah seseorang yang menyerah kepada qadha dan qadar Allah SWT.

Lalu pasangan suami istri itu pulang ke rumahnya, dan secara perlahan namun pasti, tersebarlah berita tentang rahasia tersebut ke para tetangga, kerabat dan sanak saudara.

Lima (5) tahun berlalu dari peristiwa tersebut dan sepasang suami istri bersabar, sampai akhirnya datanglah detik-detik yang sangat menegangkan, di mana sang istri berkata kepada suaminya: “Wahai fulan, saya telah bersabar selama Sembilan (9) tahun, saya tahan-tahan untuk bersabar dan tidak meminta cerai darimu, dan selama ini semua orang berkata:” betapa baik dan shalihah-nya sang istri itu yang terus setia mendampingi suaminya selama Sembilan tahun, padahal dia tahu kalau dari suaminya, ia tidak akan memperoleh keturunan”. Namun, sekarang rasanya saya sudah tidak bisa bersabar lagi, saya ingin agar engkau segera menceraikan saya, agar saya bisa menikah dengan lelaki lain dan mempunyai keturunan darinya, sehingga saya bisa melihat anak-anakku, menimangnya dan mengasuhnya.

Mendengar emosi sang istri yang memuncak, sang suami berkata: “istriku, ini cobaan dari Allah SWT, kita mesti bersabar, kita mesti …, mesti … dan mesti …”.Singkatnya, bagi sang istri, suaminya malah berceramah di hadapannya.

Akhirnya sang istri berkata: “OK, saya akan tahan kesabaranku satu tahun lagi, ingat, hanya satu tahun, tidak lebih”.

Sang suami setuju, dan dalam dirinya, dipenuhi harapan besar, semoga Allah SWT memberi jalan keluar yang terbaik bagi keduanya.

Beberapa hari kemudian, tiba-tiba sang istri jatuh sakit, dan hasil lab mengatakan bahwa sang istri mengalami gagal ginjal.

Mendengar keterangan tersebut, jatuhnya psikologis sang istri, dan mulailah memuncak emosinya. Ia berkata kepada suaminya: “Semua ini gara-gara kamu, selama ini aku menahan kesabaranku, dan jadilah sekarang aku seperti ini, kenapa selama ini kamu tidak segera menceraikan saya, saya kan ingin punya anak, saya ingin memomong dan menimang bayi, saya kan … saya kan …”.

Sang istri pun bed rest di rumah sakit.

Di saat yang genting itu, tiba-tiba suaminya berkata: “Maaf, saya ada tugas keluar negeri, dan saya berharap semoga engkau baik-baik saja”.

“Haah, pergi?”. Kata sang istri.

“Ya, saya akan pergi karena tugas dan sekalian mencari donatur ginjal, semoga dapat”. Kata sang suami.

Sehari sebelum operasi, datanglah sang donatur ke tempat pembaringan sang istri. Maka disepakatilah bahwa besok akan dilakukan operasi pemasangan ginjal dari sang donatur.
Saat itu sang istri teringat suaminya yang pergi, ia berkata dalam dirinya: “Suami apa an dia itu, istrinya operasi, eh dia malah pergi meninggalkan diriku terkapar dalam ruang bedah operasi”.
Operasi berhasil dengan sangat baik. Setelah satu pekan, suaminya datang, dan tampaklah pada wajahnya tanda-tanda orang yang kelelahan.
Dan subhanallah …
Setelah Sembilan (9) bulan dari operasi itu, sang istri melahirkan anak. Maka bergembiralah suami istri tersebut, keluarga besar dan para tetangga.
Suasana rumah tangga kembali normal, dan sang suami telah menyelesaikan studi S2 dan S3-nya di sebuah fakultas syari’ah dan telah bekerja sebagai seorang panitera di sebuah pengadilan di Jeddah. Ia pun telah menyelesaikan hafalan Al-Qur’an dan mendapatkan sanad dengan riwayat Hafs, dari ‘Ashim.
Pada suatu hari, sang suami ada tugas dinas jauh, dan ia lupa menyimpan buku hariannya dari atas meja, buku harian yang selama ini ia sembunyikan. Dan tanpa sengaja, sang istri mendapatkan buku harian tersebut, membuka-bukanya dan membacanya.
Hampir saja ia terjatuh pingsan saat menemukan rahasia tentang diri dan rumah tangganya. Ia menangis meraung-raung. Setelah agak reda, ia menelpon suaminya, dan menangis sejadi-jadinya, ia berkali-kali mengulang permohonan maaf dari suaminya. Sang suami hanya dapat membalas suara telpon istrinya dengan menangis pula.
Ketahuilah bahwa sang donatur itu tidak ada lain orang melainkan sang suami itu sendiri. Ya, suaminya telah menghibahkan satu ginjalnya untuk istrinya, tanpa sepengetahuan sang istri, tetangga dan siapa pun selain dokter yang dipesannya agar menutup rapat rahasia tersebut.

Dan setelah peristiwa tersebut, selama tiga bulanan, sang istri tidak berani menatap wajah suaminya. Jika ada keperluan, ia berbicara dengan menundukkan mukanya, tidak ada kekuatan untuk memandangnya sama sekali.

Oleh: Kak Sydrz

(Diterjemahkan dari kisah yang dituturkan oleh teman tokoh cerita ini, yang kemudian ia tulis dalam email dan disebarkan kepada kawan-kawannya) diterjemahkan oleh Ust. Ahmad Sahal,Lc)

>Ribuan Ikan Mati setelah Tsunami Jepang (#2)


>

[baguse-rek]

[MSB]   Maha suci Allah. Ini merupakan foto-foto yang dirilis beberapa saat setelah kejadian tsunami di Jepang. Dalam gambar ini, ikan-ikan yang mati tersebut berjumlah ribuan ekor dan terjadi jauh dari Jepang. Ya, ikan-ika mati tersebut terdampar di Pantai California.

Lihat foto-foto sebelumnya disini


Selamat merenungkan kejadian ini dan mengambil hikmahnya.




Setelah melihat dan merenungkan kejadian ini, apa yang anda pikirkan?
Lalu nikmat Allah yang manakah yang kita DUSTA-kan ?? 

>Ribuan Ikan Mati setelah Tsunami Jepang (#1)


>

[baguse-rek]

Maha suci Allah. Ini merupakan foto-foto yang dirilis beberapa saat setelah kejadian tsunami di Jepang. Dalam gambar ini, ikan-ikan yang mati tersebut berjumlah ribuan ekor dan terjadi jauh dari Jepang. Ya, ikan-ika mati tersebut terdampar di Pantai California.

Selamat merenungi.

Setelah melihat dan merenungkan kejadian ini, 
apa yang anda pikirkan?
Lalu nikmat Allah yang manakah yang kita DUSTA-kan ?? 


>Tarku’sh Sholah


>

[baguse-rek]      Tarku’sh sholah, yaitu meninggalkan atau menyia-nyiakan shalat. Pelakunya disebut pula taariku’sh shalah yaitu orang yang meninggalkan shalat. Sebuah perjanjian atau ikatan yang menjadi pembeda antara kita kaum mukminin dengan kaum kafirin adalah shalat. Sehingga shalat menjadi salah satu indikator utama keimanan seseorang. Shalat juga merupakan faktor kecemerlangan seorang muslim (baca: #Tip. Cemerlang dengan Shalat).

      Bukti bahwa kita beriman kepada Allah adalah shalat. Karena shalat merupakan media komunikasi dengan Dzat yang diimaninya. Karena kita beriman maka kita perlu dan butuh shalat. Dengan demikian shalat tanpa ada sesuatu yang diimani, maka tentu akan tidak jelas tujuannya, pun pula jika kita beriman dan tidak shalat maka menunjukkan bahwa tidak ada yang kita imani. Lalu untuk siapa dan untuk apa kita shalat.

Baca selengkapnya »

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.